Bidik 245 Juta Wisatawan Muslim Dunia, Indonesia Perkuat Pariwisata Ramah Muslim

Jumat, 30 Januari 2026, 21:04 WIB

INIBALI.COM – Pariwisata ramah Muslim tidak lagi dipandang sebagai agenda sektoral semata, melainkan telah menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ekonomi syariah, mendorong investasi berkualitas, serta meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan pengembangan pariwisata ramah Muslim sejalan dengan upaya memperkuat daya saing pariwisata sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini adalah upaya membangun ekosistem yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Ni Luh Puspa saat berbicara dalam acara Driving Indonesia’s Halal Industry Competitiveness & Global Export Readiness di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, kebijakan pariwisata inklusif merupakan bagian dari arah pembangunan nasional. Layanan ramah Muslim diposisikan sebagai peningkatan standar pelayanan destinasi tanpa mengubah karakter maupun jati diri budaya lokal. Sifatnya sebagai pelengkap, sehingga destinasi tetap terbuka dan nyaman bagi seluruh wisatawan dari berbagai latar belakang.

“Kita tidak mengubah karakter destinasi. Kekuatan pariwisata Indonesia justru terletak pada tradisi, budaya, dan local wisdom. Pariwisata ramah Muslim hadir untuk memperkuat destinasi melalui peningkatan standar layanan yang nyaman dan ramah bagi wisatawan Muslim, tanpa menghilangkan kekhasan budaya setempat,” jelasnya.

Dari sisi pasar, Wamenpar menyoroti potensi besar yang ditopang oleh pertumbuhan populasi Muslim dunia yang diproyeksikan mencapai 2,5 miliar jiwa pada 2035. Pada 2030, jumlah wisatawan Muslim global diperkirakan menembus 245 juta orang dengan total belanja sekitar 235 miliar dolar AS.

Indonesia dinilai memiliki modal demografis yang sangat kuat dengan populasi Muslim sekitar 248 juta jiwa atau 87 persen dari total penduduk. Angka ini setara dengan 11,3 persen populasi Muslim dunia dan 86 persen populasi Muslim di kawasan ASEAN.

Kekuatan tersebut tersebar di 19 provinsi dengan populasi Muslim di atas 90 persen, yang menjadi ekosistem alami bagi pengembangan pariwisata ramah Muslim.

Untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, Kementerian Pariwisata berkolaborasi lintas lembaga, antara lain bersama Bank Indonesia dan mitra strategis lainnya, melalui peluncuran Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025.

Indeks ini menjadi alat ukur kesiapan provinsi dalam mengembangkan pariwisata ramah Muslim yang selaras dengan standar internasional. Sebanyak 15 provinsi ditetapkan sebagai provinsi unggulan, dengan Aceh dan Banten memperoleh pengakuan khusus atas keunikan budaya dan pengelolaan destinasi.

Kemenpar juga mendorong penguatan rantai nilai melalui program Sertifikasi Halal UMKM bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal. Hingga saat ini, Kemenpar telah memfasilitasi penerbitan 14.694 sertifikat halal di 391 desa wisata yang tersebar di 33 provinsi.

Selain itu, bersama Bappenas dan Bank Indonesia, Kemenpar menyusun standar nasional layanan pariwisata ramah Muslim guna menjamin konsistensi kualitas pelayanan di seluruh destinasi Indonesia.

Ni Luh Puspa menambahkan, pariwisata ramah Muslim juga diarahkan sebagai penggerak investasi syariah di sektor riil. “Kita dorong pariwisata ramah Muslim sebagai platform utama investasi syariah karena sifatnya yang padat karya, inklusif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kita berharap akses pasar dan pembiayaan bagi pelaku lokal terus diperluas dan diperjuangkan bersama,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pembiayaan, Kemenpar memperkuat sinergi dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah melalui fasilitasi rekomendasi pelaku usaha pariwisata binaan untuk mengikuti business matching pembiayaan syariah yang diselenggarakan bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian UMKM.

“Saya berharap pertemuan hari ini semakin memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Kita optimistis Indonesia mampu menjadi salah satu destinasi pariwisata ramah Muslim terdepan di dunia,” pungkasnya.***

Berita Terkait