Nusawastra Silang Budaya: Pamerkan 50 Batik Pilihan dan Wastra Nusantara termasuk Kain Gringsing dari Bali

Senin, 6 Oktober 2025, 11:13 WIB

Kiprah Quoriena
Quoriena Ginting telah beberapa kali menggelar pameran wastra Nusantara di antaranya di Hotel Fairmont Jakarta (2025), Dharmawangsa Jakarta (2024), Bimasena Jakarta (2019), Museum Tekstil Jakarta (2018), KBRI London (2018), Apartemen Saumata (2017), Bentara Budaya Bali (2017), serta Dharmawangsa Jakarta (2016 dan 2014).

Ia juga meluncurkan buku Nusawastra Silang Budaya di ajang London Book Fair 2018 yang dirangkai dengan pameran wastra, diskusi, serta workshop batik.

Dalam berbagai kesempatan, Quoriena Ginting kerap membanggakan kain gringsing sebagai salah satu karya tradisi tenun dengan teknik dobel ikat atau ikat ganda.

Quoriena Ginting memiliki koleksi 50 kain gringsing ikat ganda dengan berbagai motif antara lain sayang kebo, yuda, lubeng, gegonggangan, dan enjekan siap.

“Teknik ikat ganda tenun gringsing merupakan satu-satunya di Indonesia. Dua lainnya dapat ditemukan pada kain kurume di Jepang dan kain patola di India. Ciri khasnya berupa motif ganda yang terjalin sempurna dan menghasilkan pola simetri,” tutur Quoriena Ginting.

Tenun gringsing diproduksi secara tradisional oleh warga Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Kain ini dianggap sakral karena dipercaya sebagai penolak bala. Namanya berasal dari kata gring (sakit) dan sing (tidak), yang secara harfiah berarti ‘tidak sakit’.

Salah satu kain gringsing koleksi Quoriena Ginting. (IST)

Menurut kepercayaan, kain gringsing lahir dari rasa kagum Dewa Indra pada langit malam, yang kemudian menganugerahkan kemampuan menenun kepada masyarakat Tenganan untuk menggambarkan matahari, bulan, bintang, hingga menghasilkan kain berwarna gelap pekat menyerupai langit malam.

Kain gringsing bahkan tercatat dalam karya sastra klasik Kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapañca, yang menyebutkan bahwa tirai pada salah satu kereta kencana Raja Hayam Wuruk, Sri Nata Wilwatikta, dibuat dari kain sakral ini.

Meski berusia ratusan tahun, tradisi menenun gringsing tetap hidup dan hingga kini masih digunakan masyarakat Tenganan dalam berbagai upacara adat, mulai dari ritual keagamaan, upacara potong gigi, hingga pernikahan.***

Berita Terkait