Pendampingan Tim Ahli Digencarkan, Gianyar Fokus Cegah Stunting Sejak Dini

Selasa, 20 Januari 2026, 19:21 WIB

INIBALI.COM – Pemerintah Kabupaten Gianyar terus memperkuat komitmen dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui pelaksanaan Pendampingan Tim Ahli di delapan desa. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil Gerakan Pengukuran Serentak yang dilaksanakan pada November 2025.

Pendampingan tersebut dilaksanakan sejalan dengan kebijakan nasional Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, yang mengamanatkan pelaksanaan intervensi spesifik dan sensitif secara konvergen, terpadu, serta berkelanjutan. Upaya ini juga dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor untuk memastikan penanganan stunting berjalan efektif hingga ke tingkat desa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, Selasa (20/1/2026), menjelaskan bahwa Pendampingan Tim Ahli bertujuan memastikan setiap intervensi stunting di desa tepat sasaran dan berbasis data. Tim ahli yang dilibatkan berasal dari rumah sakit pemerintah maupun swasta, terdiri atas dokter spesialis anak (Sp.A), psikolog, nutrisionis, serta unsur pendukung lainnya.

“Pendampingan ini diberikan secara langsung kepada balita sasaran, keluarga berisiko stunting, serta kader dan perangkat desa, sehingga penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh,” ujar Ariyuni.

Ia menambahkan, kegiatan ini menyasar balita berdasarkan data hasil pengukuran yang telah ditetapkan. Fokus pendampingan meliputi pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi gizi, peningkatan pola asuh, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam mencegah stunting sejak dini.

Melalui pendampingan Tim Ahli, Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap intervensi stunting dapat berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dengan demikian, angka stunting dapat ditekan secara signifikan demi mewujudkan generasi Gianyar yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Pendampingan Tim Ahli ini dilaksanakan pada 19–20 Januari 2026 dengan menyasar desa-desa yang memiliki prevalensi stunting di atas 6 persen. Desa Kedisan tercatat memiliki 29 balita stunting dengan prevalensi 9 persen. Desa Taro menyasar 50 balita dengan prevalensi 8,8 persen, sementara Desa Pejeng Kaja memiliki 25 balita terindikasi stunting dengan prevalensi 7,9 persen.

Selanjutnya, Desa Pupuan mencatat 30 balita stunting dengan prevalensi 7,8 persen, Desa Manukaya menyasar 47 balita dengan prevalensi 7,2 persen, dan Desa Puhu dengan 20 balita stunting juga memiliki prevalensi 7,2 persen. Desa Singakerta tercatat memiliki 40 balita terindikasi stunting dengan prevalensi 7,1 persen, sedangkan Desa Kelusa mencatat 16 balita stunting dengan prevalensi 6,8 persen.***

Berita Terkait