INIBALI.COM — Tenis bukan sekadar olahraga populer di lapangan hijau. Jika dilakukan secara rutin, olahraga raket ini terbukti memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Sebuah penelitian berskala besar, The Copenhagen City Heart Study, yang melibatkan lebih dari 8.000 partisipan selama 25 tahun, menemukan bahwa mereka yang rutin bermain tenis memiliki peningkatan usia harapan hidup rata-rata hingga 9,7 tahun dibandingkan individu dengan gaya hidup tidak aktif.
Manfaat tersebut berasal dari karakteristik tenis yang memadukan high-intensity interval movement, latihan kelincahan, koordinasi, serta keterlibatan kognitif dalam satu aktivitas.
Pola gerakan multidirectional—mulai dari berlari cepat, berhenti mendadak, berputar, hingga bereaksi secara spontan—berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kebugaran kardiovaskular dan efisiensi kerja jantung.
Temuan ini menjadi semakin relevan di tengah fakta bahwa penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, baik di dunia maupun di Indonesia, termasuk pada kelompok usia produktif.
Dalam konteks ini, tenis hadir sebagai alternatif olahraga yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menyenangkan dan berkelanjutan.
Founder Liga.Tennis, Dima Shcherbakov atau akrab disapa Dimas, menilai tenis memiliki keunggulan dibanding banyak olahraga lain.
“Bermain tenis lebih dari sekadar berolahraga dan bersenang-senang. Kombinasi aktivitas fisik yang intens, keterlibatan kognitif, dan aspek sosial menjadikan tenis bukan hanya olahraga, tetapi bagian dari gaya hidup sehat yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit paling mematikan, seperti penyakit jantung,” ujarnya.
Dari sisi adopsi, tenis tetap menjadi salah satu olahraga paling populer di dunia, dengan basis pemain yang kuat dan terus berkembang, termasuk di kawasan Asia.
Di Indonesia sendiri, tren bermain tenis menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, seiring tumbuhnya minat masyarakat terhadap gaya hidup aktif dan sehat.
Melihat peluang tersebut, Liga.Tennis berkomitmen menghadirkan akses bermain tenis yang lebih inklusif dan mudah dijangkau berbagai kalangan. Beragam aktivitas dirancang agar tenis dapat dinikmati tanpa batasan usia maupun tingkat kemampuan.
Salah satunya melalui program Junior Academy, yang mengajarkan tenis kepada anak-anak usia 5–12 tahun dalam empat tingkat kemampuan, dengan pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada pembentukan kebiasaan aktif jangka panjang, bukan semata prestasi.
Selain pembinaan usia dini, Liga.Tennis juga rutin menggelar kompetisi berbasis komunitas untuk menjaga motivasi bermain sekaligus membangun rasa kebersamaan, termasuk bagi pemain pemula.
Dalam waktu dekat, Liga.Tennis akan menyelenggarakan Ubud Double Smash, turnamen ganda level beginner dengan dua kategori, yakni Men’s Beginner Doubles dan Ladies’ Beginner Doubles.
Dimas menegaskan, seluruh inisiatif tersebut sejalan dengan visi Liga.Tennis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui olahraga raket.
“Kami ingin tenis menjadi olahraga yang mudah diakses, dinikmati, dan dijalani sepanjang hidup—bukan hanya untuk atlet, tetapi untuk semua kalangan,” tuturnya.***
