INIBALI.COM – Ketergantungan petani pada input kimia yang mahal dan berisiko merusak ekosistem dinilai semakin mengancam kedaulatan pangan nasional.
Model pertanian Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) disebut sebagai solusi rasional untuk menyeimbangkan produktivitas, efisiensi biaya, dan kelestarian lingkungan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa di Denpasar, Sabtu (2/5/2026).
Akademisi FPST Unwar Dr. I Nengah Muliarta menegaskan sektor pertanian tengah menghadapi paradoks serius. Di satu sisi, petani dituntut meningkatkan produksi secara cepat, namun di sisi lain ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida sintetis justru menurunkan kualitas lahan serta menggerus pendapatan secara sistemik.
“LEISA menjadi jalan tengah antara pertanian berkelanjutan dan efisiensi biaya produksi,” ujarnya di hadapan mahasiswa.
Ia menekankan, pendekatan ini tidak sepenuhnya menolak input eksternal, melainkan mengoptimalkan sumber daya lokal agar biaya produksi dapat ditekan tanpa mengorbankan hasil panen.
Menurut Muliarta, kunci efisiensi terletak pada pengelolaan limbah pertanian. Jerami padi, klobot jagung, hingga limbah organik lain yang kerap dianggap sampah sejatinya dapat diolah menjadi sumber nutrisi tanah. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga tani.
Peraih Adi Acarya Award 2020 itu juga menyoroti pentingnya kemandirian petani dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri. Ia menilai ketergantungan pada industri pupuk menjadi salah satu penghambat utama tercapainya kedaulatan pangan.
“Kedaulatan pangan tidak akan tercapai selama input produksi masih bergantung pada pabrik besar. Kemandirian dimulai ketika petani mampu memproduksi nutrisi tanahnya sendiri,” tegasnya.
Selain isu teknis pertanian, forum LKMM juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan di sektor pangan. Muliarta menekankan bahwa regenerasi tidak cukup hanya mengganti pelaku lama dengan generasi muda, tetapi juga harus menghadirkan kepemimpinan berbasis ilmu pengetahuan dan manajemen modern.
Mahasiswa, menurutnya, memiliki peran strategis sebagai motor transformasi menuju sistem pertanian yang lebih adaptif dan kompetitif. Ia mendorong generasi muda untuk berani keluar dari pola konvensional dan menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi teknologi.
“Kalian adalah nakhoda masa depan yang harus mengangkat sektor ini dari stigma kemiskinan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan FPST Unwar, I Wayan Sudiarta, menekankan perubahan karakter kepemimpinan di era digital. Menurutnya, pemimpin masa kini dituntut lebih adaptif terhadap sistem berbasis teknologi dan data.
“Arus digitalisasi mengubah cara memimpin. Mahasiswa harus siap menghadapi sistem yang serba cepat dan dinamis,” katanya.
Ia juga menepis anggapan bahwa aktivitas organisasi menghambat prestasi akademik. Berdasarkan data internal, lulusan terbaik di berbagai program studi justru berasal dari kalangan mahasiswa aktif berorganisasi yang mampu menyelesaikan studi tepat waktu dengan predikat memuaskan.
Kegiatan LKMM ini dinilai menjadi momentum penting dalam mencetak calon pemimpin sektor pertanian yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga inovatif dalam praktik. Model LEISA yang diperkenalkan diharapkan mampu menjadi peta jalan menuju pertanian modern yang efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing di tengah tantangan krisis iklim.***
