“Setidaknya seminggu sekali ada panggung bagi anak-anak muda Gianyar untuk menunjukkan karya mereka. Talenta mereka luar biasa, tinggal diberikan wadah,” ujarnya.
Melalui Gus Teja World Music, ia menghadirkan harmoni antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas. Suling Bali berdialog mesra dengan gamelan, gitar, dan instrumen dunia lainnya, melahirkan warna musik lintas budaya yang tetap berakar pada tanah kelahiran.
Sementara itu, Balawan, musisi virtuoso dari Desa Batuan, Sukawati, juga dikenal luas atas kemampuannya menjembatani musik tradisional Bali dengan teknologi dan irama modern.
Lahir di lingkungan yang sarat akan seni, Balawan tumbuh bersama denting gamelan. Tapi satu suara lain menarik hatinya sejak kecil—gitar listrik.
Ia mulai memainkan gitar sejak usia delapan tahun dan membentuk band pertamanya di bangku sekolah dasar. Bagi Balawan, musik bukan sekadar hiburan, tapi panggilan jiwa.
Penampilannya yang memukau dengan gitar berleher ganda dan teknik bermain yang ekstrem, menjadikannya fenomena di dunia musik. Tapi di balik kecepatan jarinya, tetap mengalun ruh Bali yang mendalam.
Penghargaan Wija Kusuma yang mereka terima adalah bentuk apresiasi Pemerintah Kabupaten Gianyar atas dedikasi para seniman yang dengan konsisten menjaga, melestarikan, dan menghidupkan kebudayaan.
“Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pengabdi seni yang telah menunjukkan dharma baktinya kepada pemerintah, masyarakat, dan seni itu sendiri,” ujar Bupati Gianyar I Made Mahayastra.
Di Gianyar, seni bukan sekadar warisan. Ia adalah denyut kehidupan, suara jiwa, dan cermin budaya yang terus mengalir dari generasi ke generasi.***
