INIBALI.COM – Kabut tipis masih menggantung di perbukitan Desa Belantih, Kintamani, saat para petani mulai menyusuri kebun kopi mereka.
Di sela-sela barisan pohon kopi yang tumbuh di lereng dataran tinggi itu, pohon-pohon jeruk siam berdiri rapi, menjadi bagian dari pola tumpangsari yang sejak lama diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Namun, di balik hijaunya kebun dan aroma kopi khas Kintamani, para petani Belantih selama bertahun-tahun menghadapi persoalan yang tak sederhana.
Kopi yang mereka hasilkan kerap dijual sebagai komoditas curah dengan harga rendah. Buah kopi dipetik serentak tanpa memilah tingkat kematangan, membuat kualitas rasa tidak konsisten dan sulit bersaing di pasar premium.
Persoalan lain muncul dari limbah kulit kopi yang terus menumpuk setiap musim panen. Tumpukan kulit kopi yang mencapai lebih dari separuh bagian buah sering kali hanya dibiarkan membusuk dan mencemari lingkungan sekitar kebun.
Kini, perlahan situasi itu mulai berubah.
Melalui Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), tim akademisi Universitas Warmadewa hadir mendampingi Kelompok Tani Dharma Kriya di Desa Belantih untuk membangun sistem pertanian yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan.
Fokusnya bukan hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperbaiki kualitas kopi serta memanfaatkan limbah agar kembali bernilai ekonomi.
Akademisi Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. I Nengah Suaria, M.Si., mengatakan sistem tumpangsari antara kopi dan jeruk sejatinya memiliki potensi besar jika dikelola dengan tepat.
Menurutnya, hubungan antara dua komoditas itu bukan sekadar strategi menambah pendapatan petani, melainkan bagian dari ekosistem pertanian yang saling mendukung.
“Penanganan pascapanen adalah fase kritis yang menentukan lebih dari 60 persen kualitas cita rasa dan fisik biji kopi. Fokus kita adalah memastikan petani hanya memetik buah merah matang sempurna guna menghindari rasa ‘asparagus’ atau kayu yang muncul dari buah yang belum matang,” ujarnya di sela kegiatan pelatihan pada Kamis 14 Mei 2026.
Bagi sebagian petani, perubahan pola panen bukan hal mudah. Selama ini, memetik buah sekaligus dianggap lebih praktis dan cepat.
Namun, melalui pelatihan yang diberikan, para petani mulai memahami bahwa kualitas kopi premium justru ditentukan dari ketelitian memilih buah yang benar-benar matang.
Sebanyak 35 anggota kelompok tani mengikuti pelatihan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP). Mereka belajar mulai dari teknik pemangkasan tanaman, pemupukan berimbang, hingga proses fermentasi terkendali untuk menjaga mutu kopi.
Di sebuah demplot percontohan yang dibangun di Desa Belantih, para petani dapat melihat langsung perbedaan hasil antara metode lama dan teknik budidaya yang lebih modern.
Tempat itu kini menjadi ruang belajar terbuka, tempat petani berdiskusi, mencoba, sekaligus membandingkan hasil nyata di lapangan.
Tak hanya soal kopi, perhatian juga diarahkan pada limbah kulit kopi yang selama ini dianggap tidak berguna. Dalam setiap panen, sekitar 55 hingga 60 persen bagian buah kopi berubah menjadi limbah kulit.
Melalui pelatihan yang diberikan, kulit kopi kini diolah menjadi pupuk organik padat dan cair. Limbah yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran berubah menjadi sumber nutrisi baru bagi tanaman.
“Limbah yang dulu dianggap masalah kini menjadi solusi. Petani bisa menekan biaya pupuk sekaligus menjaga kesuburan tanah,” kata Suaria.
Perubahan kecil itu mulai memberi dampak nyata. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pupuk kimia yang harganya terus meningkat. Tanah kebun pun perlahan menjadi lebih sehat karena mendapat asupan bahan organik secara rutin.
Lebih jauh lagi, program ini diharapkan mampu memperkuat posisi petani dalam rantai agribisnis. Kopi Belantih yang memiliki kualitas lebih baik diharapkan dapat masuk ke pasar premium dengan harga jual yang lebih tinggi. Sementara pengolahan pupuk organik membuka peluang usaha baru di tingkat desa.
Di tengah tantangan pertanian modern, Desa Belantih kini menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat berjalan berdampingan dengan inovasi teknologi.
Sistem tumpangsari yang diwariskan turun-temurun tidak ditinggalkan, melainkan diperkuat dengan pengetahuan baru yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang.
Bagi para petani di lereng Kintamani itu, masa depan pertanian bukan hanya tentang banyaknya hasil panen, tetapi juga tentang menjaga kualitas tanah, meningkatkan nilai produk, dan memastikan generasi berikutnya masih bisa menikmati harum kopi dari kebun mereka sendiri. ***
