Universitas Warmadewa Dampingi Petani Subak Pakel II Tingkatkan Nilai Ekonomi Lahan

Jumat, 15 Mei 2026, 19:54 WIB

INIBALI.COM – Di tengah masifnya pembangunan dan laju urbanisasi di Kota Denpasar, sepetak harapan masih bertahan di Subak Pakel II, Desa Ubung Kaja, Kecamatan Denpasar Utara.

Di kawasan yang kian terdesak beton dan alih fungsi lahan itu, para petani mulai membuka jalan baru untuk menjaga keberlangsungan subak melalui diversifikasi usahatani dengan budidaya cabai (Capsicum annuum L.).

Langkah tersebut dilakukan melalui program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) yang digelar pada Kamis 14 Mei 2026.

Bagi para petani, budidaya cabai bukan sekadar upaya menambah penghasilan, tetapi juga strategi bertahan agar sistem irigasi tradisional Bali tetap hidup di tengah tekanan pembangunan perkotaan.

Akademisi Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa Ni Luh Putu Sulis Dewi Damayanti mengatakan keberlangsungan subak di kawasan perkotaan sangat ditentukan oleh nilai ekonomi lahan yang dimiliki petani.

Menurutnya, ketergantungan pada tanaman padi dengan masa tanam panjang dan harga yang fluktuatif membuat petani semakin rentan tergoda menjual lahannya untuk pembangunan.

“Subak di Denpasar menghadapi tekanan yang luar biasa. Godaan untuk mengonversi lahan menjadi bangunan akan semakin besar jika petani hanya mengandalkan padi. Diversifikasi ke tanaman hortikultura seperti cabai menjadi jawaban logis untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi di lahan yang terbatas,” ujar Sulis Dewi di sela kegiatan pelatihan budidaya.

Melalui program tersebut, para petani tidak hanya menerima bantuan bibit unggul, tetapi juga mendapatkan pendampingan penerapan teknologi pertanian yang lebih presisi.

Materi pelatihan mencakup penggunaan mulsa, pengaturan pola tanam, hingga inovasi pengolahan pascapanen.

Salah satu persoalan utama yang dihadapi petani cabai selama ini adalah anjloknya harga saat panen raya. Untuk mengatasi hal tersebut, tim Universitas Warmadewa memperkenalkan teknologi solar dryer dan alat pengolahan sederhana agar hasil panen dapat diolah menjadi produk yang lebih tahan lama dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Kami ingin petani tidak lagi menjadi objek permainan harga di pasar. Melalui sentuhan teknologi, biaya produksi dapat ditekan sementara kualitas hasil panen meningkat, termasuk dengan penggunaan pupuk NPK yang tepat dan bio-pestisida,” tambahnya.

Program ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat Universitas Warmadewa yang bertujuan menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata petani di lapangan.

Kehadiran akademisi di tengah sawah pun memberikan semangat baru bagi para petani Subak Pakel II untuk tetap mempertahankan lahan pertanian mereka.

Budidaya cabai dipilih karena memiliki perputaran modal yang relatif lebih cepat dibandingkan padi, namun tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dalam sistem subak.

Di tengah semakin sempitnya ruang terbuka hijau di Denpasar, langkah kecil dari Subak Pakel II menjadi penanda bahwa pertanian perkotaan di Bali masih memiliki masa depan.

Melalui inovasi, pendampingan, dan keberpihakan pada petani, denyut subak di jantung kota diharapkan tetap hidup sekaligus menjaga kedaulatan pangan dan keseimbangan lingkungan.***

Berita Terkait